SEBUAH PERTEMUAN
Dewi
Utami Retnoningsih
Nomor yang anda tuju
tidak dapat dihubung … klik! “Argghh…”
Semenjak pertemuan sore itu di taman kota, hubunganku
dan dia semakin memburuk. Setiap hari aku mengirim SMS dan meneleponnya, tetapi
selalu tidak ada jawaban, seolah-olah dia mencoba menghindariku. Hanya air mata
yang setia menemani hari-hariku. Sampai pada suatu hari aku menemukan
penggantinya. Ya, dia adalah sesosok lelaki yang dewasa menurutku. Dia selalu
ada disaat senang maupun susah, bahkan dia bersedia memberikan pundaknya
untukku bersandar dengan penuh keluh kesah.
****
“Mel…bangun!! Sudah jam 6 lebih, hari ini pengumuman
masuk SMA, kan? Buruan mandi, sudah ditunggu Kak Sasa di bawah.”
Kudengar mama mengetuk-ngetuk pintukamarku dengan keras.
Kulirik sekilas jam weker di sebelah tempat tidurku dengan malas.
“Hah??!!! Sudah jam segini, aku harus cepat-cepat
mandi.”
Hari ini adalah hari pengumuman lolos atau tidaknya kami
calon peserta didik di SMA Harapan Bangsa. Sekolah tersebut adalah salah satu
sekolah menengah atas favorit di kotaku. Banyak sekali orang yang mengidamkan
bisa masuk di sekolah tersebut, termasuk aku.
“Ya ampun, Mel…lama banget. Ini sudah jam berapa?”
gerutu Kak Sasa dengan sebal.
“Iya, iya maaf deh, yaudah yuk berangkat! Doain Amel ya
Pa, Ma semoga Amel lolos. Assalamu’alaikum.”
Suasana begitu ramai sesampainya aki di SMA Harapan
Bangsa. Lautan manusia berseragam putih biru membanjiri lapangan utama pagi
ini. Untung saja pengumuman belum dimulai.
“Amel….!!!” Teriak seseorang di belakangku.
Aku menoleh dan mendapati sahabatku, Inggrid
berlari-lari kecil menghampiriku.
Kepada seluruh calon
peserta didik SMA Harapan Bangsa, pengumuman sudah kami tempel di papan
pengumuman di sebelah barat lapangan utama. Terimakasih.
Aku dan Inggrid berlarian menuju lokasi pengumuman.
Aku mencoba menyusup sampai barisan paling depan.
Kutelusuri barisan nama demi nama dengan teliti.
AMELIA ADISTY LOLOS
Aku lolos! “Alhamdulillah” ucapku penuh syukur.
Inggrid memberitahuku kalau dia juga lolos. Kami sangat
bahagia karena dapat bersekolah di sekolah yang sama lagi. Kami sampai
berpelukan saking bahagianya.
Hei! Aku melupakan seseorang. Angga! Dia adalah
kekasihku. Dimana dia? Sedari tadi aku belum melihatnya.
“Hei!” seseorang menepuk pundakku dan akupun menoleh.
“Selamat ya, Mel. Aku tidak lolos.” Kata Angga dengan
wajah kecewa.
“Sabar, Ngga. Pasti akan ada jalan yang terbaik untukmu,
aku selalu mendoakanmu.” Kataku memberi semangat kepada Angga.
“Iya, terima kasih ya,” kata Angga sambil tersenyum.
Akupun ikut tersenyum lega.
****
Hari ini adalah hari pertamaku menjadi siswi berseragam
putih abu-abu, setelah tiga hari berturut-turut mengikuti Masa Orientasi Siswa
(MOS). Acaranya sangat seru, aku berkenalan dengan teman-teman baru dan juga
dengan kakak-kakak senior yang baik hati.
Trrrtt … trrttt …
|
||||
|
||||
****
8 bulan kemudian….
Kesibukan di sekolah dengan berbagai macam kegiatan
benar-benar menyita waktuku. Bahkan aku jarang sekali main dengan Inggrid,
apalagi Angga. Dia sekarang juga super sibuk karena dia salah satu anggota
Majelis Permusyawaratan Kelas (MPK) di sekolahnya, tetapi Angga masih
meluangkan waktunya untuk sekedar menanyakan kabarku melalui telepon maupun
SMS.
Bruukk….
Suara gaduh itu membuyarkan lamunanku. Ternyata Kak
Radit menjatuhkan buku-buku yang dibawanya.
“Ya ampun, Kak kok bisa jatuh sih?” tanyaku sambil ikut
membereskan buku-bukunya.
“Ternyata ada meja di depanku dan aku nggak tahu, jadi
nabrak deh hehe…” kata Kak Radit sambil meletakkan buku-bukunya di meja.
Kak Radit adalah ketua ekstrakurikuler yang aku ikuti
yaitu majalah sekolah. Kak Radit sangat baik dan humoris, dia sudah ku anggap
seperti kakakku sendiri. Kak Radit juga teman curhatku selain Ingrid.
“Kamu ngapain, Mel bengong di sini sendirian? Galauin
pacar?”
“Hehe..tahu aja Kak Radit ini,” Jawabku malu.
“Ya tahu dong, isi curhatmu pasti kan galauin pacar.”
“Hehe..ya maaf Kak,” Jawabku sekali lagi dengan malu.
“Hmmm..udah sore nih, pulang yuk! Aku antar.”
“Nggak usah Kak, terima kasih. Aku masih nunggu Inggrid latihan
dance.”
“Yasudah, aku duluan ya, bye!” kata Kak Radit sambil berlalu.
Kak Radit selalu baik padaku, dia selalu ingin
mengantarku pulang jika hari sudah terlalu sore, tetapi aku tidak mau. Aku
lebih memilih pulang bersama sahabatku, Inggrid.
****
Sudah beberapa hari ini Angga sulit sekali dihubungi,
dia juga tidak mencoba menghubungiku. Tidak seperti biasanya dia begitu. Setiap
aku pergi ke rumahnya pasti dia sedang tidak ada di rumah. Aku tidak boleh
berburuk sangka kepadanya, mungkin saja memang dia benar-benar sibuk. Aku
sangat rindu kepada Angga, semoga saja dia tidak berubah.
Satu minggu lagi kami merayakan hari jadi kami yang
ke-4. Apa Angga akan membuat kejutan untukku? Akupun harus memberi kejutan
kepada Angga. Aku akan membuat kue tart sendiri, karena biasanya kami membelinya.
Aku akan meminta Inggrid untuk mengajari membuat kue.
****
Satu minggu sudah terlewati dan hari ini tepat hari jadi
kami yang ke-4. Angga belum juga menghubungiku. Aku cemas. Apa dia lupa?
Sebegitu sibukkah dia sampai dia tidak meneleponku atau sekedar memberi ucapan
lewat SMS?
“Sabar, Mel, pasti dia akan menghubungimu,” kata Inggrid
mencoba menenangkanku.
|
Trrrtt…trrtt…
Hah? Angga hanya membalas seperti itu? Ada apa dengan
Angga? Dimana Angga yang dulu? Angga yang sangat romantis dan perhatian
kepadaku. Apa yang membuat Angga berubah? Pikiranku sangat tidak karuan.
Tangisku semakin menjadi-jadi, memecah keheningan di taman belakang SMA Harapan
Bangsa.
“Sudahlah, Mel, tak perlu kau tangisi! Kapan-kapan kita
temui dia dan minta penjelasan mengapa dia seperti itu. Sekarang ayo kita
pulang!” kata Inggrid dengan nada sangat kesal.
Aku menurut saja apa kata Inggrid. Selama perjalanan
pulang aku hanya diam, sibuk dengan pikiranku sendiri. Inggrid pun tidak
mencoba mengajakku bicara, dia hanya menatapku dengan belas kasihan.
Tiba-tiba angkutan yang kami tumpangi mogok. Terpaksa
kami harus turun. Untung saja jalan menuju rumah sudah tidak jauh. Aku dan
Inggrid memutuskan untuk jalan kaki saja.
“Mel..Mel..lihat deh! Itu Angga, bukan?” kata Inggrid
tiba-tiba berhenti dan menunjuk ke arah seberang.
“Mana? Hah iya,Nggrid! Tapi siapa perempuan yang
bersamanya itu? Aku harus temui dia!” kataku sudah tidak sabar lagi, tetapi
Inggrid mencegahku. Dia melihat aku sangat marah sekali dan dia khawatir kalau
nantinya aku tidak dapat menahan emosi saat menemui Angga.
Aku sudah tidak tahan lagi. Aku segera berlari menuju
rumah, meninggalkan Inggrid sendiri. Air mataku serasa ingin tumpah, aku
mencoba menahannya. Tidak mungkin aku menangis di jalanan.
Sesampainya di rumah aku menangis sepuasnya. Pikiranku
benar-benar kacau. Aku cemburu. Siapa perempuan itu? Mengapa dia pergi dengan
perempuan lain? Harusnya hari ini kami merayakan hari jadi kami. Sudah kucoba
menghubungi Angga, dan besok sore dia mengajakku bertemu di taman kota.
****
Setengah jam sudah aku menunggu. Aku harus tetap sabar
menunggunya datang dan mendengar penjelasan darinya.
Kulihat motor berwarna biru datang menghampiriku.
Angga turun dari motornya dan duduk di sampingku. Kami
duduk dalam diam. Tidak biasanya suasana seperti ini terjadi. Kami seperti
orang asing yang tidak saling mengenal. Konyol!
“Kemarin kenapa kamu tidak datang menemuiku untuk
merayakan hari jadi kita?” tanyaku memulai percakapan.
“Sudah kubilang
aku sibuk,” jawab Angga ketus.
“Sibuk? Kemarin aku lihat kamu pergi bersama perempuan
lain. Apa itu yang dinamakan sibuk? Siapa perempuan itu?” aku sudah tidak dapat
menahan amarahku.
“Apa-apaan sih kamu, dia itu temanku! Kamu menuduhku
selingkuh? Kalau bertemu hanya ingin menuduhku seperti itu lebih baik aku
pulang saja,” Kata Angga dengan nada tinggi.
“Angga, tungguuu..!!!”
Percuma saja aku mencegahnya untuk tetap tinggal. Dia
pergi begitu saja meninggalkanku sendiri. Apa aku salah berbicara seperti itu?
Aku hanya ingin tahu siapa perempuan yang bersamanya waktu itu. Aku hanya bisa
terdiam dan menangis.
“Hei!” seseorang menepuk pundakku, akupun kaget.
“Hei, Kak Radit, ngapain disini?” tanyaku sambil
mengusap air mata.
“Maaf, Mel tadi aku tidak sengaja melihatmu bertengkar
dengan pacarmu, yang sabar, Mel,” kata Kak Radit sambil merangkulku dan
membiarkan kepalaku bersandar di pundaknya.
Aku bercerita banyak kepada Kak Radit, dia mencoba
menenangkanku. Aku merasa sedikit agak tenang setelah berbagi keluh kesah
kepada Kak Radit. Hari sudah mulai gelap, Kak Radit mengajakku pulang. Kak
Radit mengatakan kalau aku tidak boleh menolak tawarannya untuk mengantarku
pulang. Aku menurut saja.
****
Semenjak pertemuan sore itu di taman kota, hubunganku
dan dia semakin memburuk. Setiap hari aku mengirim SMS dan meneleponnya, tetapi
selalu tidak ada jawaban, seolah-olah dia mencoba menghindariku. Hanya air mata
yang setia menemani hari-hariku.
Aku sudah tidak tahan jika terus-terusan seperti ini.
Aku harus segera membuat keputusan. Sore ini sepulang sekolah aku harus menemui
Angga dan membicarakan soal hubungan kami.
Aku menunggunya di tempat seperti biasa, di taman kota.
Berat rasanya harus mengatakan semua ini, tapi semoga
inilah yang terbaik untukku dan untuknya.
“Maaf, Ngga aku sudah tidak tahan dengan keadaan kita
yang seperti ini, kamu hanya diam. Aku tidak mengerti apa yang sudah terjadi
pada dirimu. Aku ingin putus! Maafkan jika selama ini aku banyak salah. Mulai
sekarang kita harus menjalankan kehidupan kita masing-masing.”
Aku menangis, berlari meninggalkan Angga sendiri. Aku
sedih, aku sakit. Tetapi memang inilah yang terbaik untuk kami. Hubungan yang
terjalin selama kurang lebih empat tahun harus berakhir di taman kota sore ini.
****
Satu bulan pasca berakhirnya hubunganku dengan Angga, aku
sering mendapat kiriman surat yang entah siapa pengirimnya.
“Surat lagi, Mel? Ciyeee,” tanya Inggrid yang tiba-tiba
muncul di depanku.
“Iya, nih. Kira-kira siapa ya pengirimnya?” tanyaku
kepada Inggrid sambil membaca isi surat tersebut.
“Tauk..pengagum rahasia mungkin,” jawab Inggrid
menggodaku.
Aku hanya tersenyum geli. Aku jadi penasaran, siapa ya
yang setiap hari mengirimiku surat seperti ini.
Ternyata surat hari
ini ada dua lembar. Segera kubuka suratnya dan kubaca isinya.
“Sudahlah, Mel, temui saja! Siapa tahu dia cowok
ganteng, nggak ada ruginya, hahaha…” kata Inggrid sambil tertawa.
Benar juga kata Inggrid, aku sangat penasaran dengannya.
Tidak ada salahnya aku menemuinya.
****
Aku sudah berada di taman pusat kota. Dimana penulis
surat misterius itu? Atau jangan-jangan dia hanya membohongiku.
Aku memutuskan untuk pulang saja, tetapi langkahku
terhenti ketika aku melihat seorang laki-laki memakai kaos berwarna merah
berdiri membelakangiku di seberang sana. Aku menghampirinya.
“Hei, apakah kau yang sering mengirimiku surat setiap
pagi?”
“Iya, benar,” jawabnya singkat.
Dia pun berbalik dan betapa terkejutnya aku ketika aku
mengetahui bahwa orang yang sekarang berdiri di depanku adalah Kak Radit.
Ternyata Kak Radit lah pengirim surat misterius itu.
“Aku sudah mengagumimu sejak pertama kali aku melihatmu
di hari pengumuman dulu itu. Aku juga sangat senang ketika aku mengetahui kalau
kamu mengikuti ekstrakurikuler yang sama denganku. Tetapi aku tidak berani
mendekatimu karena kamu sudah mempunyai pacar, tetapi sekarang kamu sedang
sendiri. Aku tidak akan lama berbasa-basi. Maukah kamu menjadi pacarku?”
Aku terkejut. Aku tidak dapat berkata apa-apa. Aku tidak
tahu mengapa aku sangat senang Kak Radit berbicara seperti itu. Kak Radit
laki-laki yang baik mana mungkin aku menolaknya.
“Ya.” Hanya itu yang dapat aku ucapkan.
Kami pun tersenyum bahagia sembari memandang langit
senja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar