Jumat, 13 Maret 2015

Cerpen

SEBUAH PERTEMUAN
Dewi Utami Retnoningsih

Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubung … klik! “Argghh…”
Semenjak pertemuan sore itu di taman kota, hubunganku dan dia semakin memburuk. Setiap hari aku mengirim SMS dan meneleponnya, tetapi selalu tidak ada jawaban, seolah-olah dia mencoba menghindariku. Hanya air mata yang setia menemani hari-hariku. Sampai pada suatu hari aku menemukan penggantinya. Ya, dia adalah sesosok lelaki yang dewasa menurutku. Dia selalu ada disaat senang maupun susah, bahkan dia bersedia memberikan pundaknya untukku bersandar dengan penuh keluh kesah.
****
“Mel…bangun!! Sudah jam 6 lebih, hari ini pengumuman masuk SMA, kan? Buruan mandi, sudah ditunggu Kak Sasa di bawah.”
Kudengar mama mengetuk-ngetuk pintukamarku dengan keras. Kulirik sekilas jam weker di sebelah tempat tidurku dengan malas.
“Hah??!!! Sudah jam segini, aku harus cepat-cepat mandi.”
Hari ini adalah hari pengumuman lolos atau tidaknya kami calon peserta didik di SMA Harapan Bangsa. Sekolah tersebut adalah salah satu sekolah menengah atas favorit di kotaku. Banyak sekali orang yang mengidamkan bisa masuk di sekolah tersebut, termasuk aku.
“Ya ampun, Mel…lama banget. Ini sudah jam berapa?” gerutu Kak Sasa dengan sebal.
“Iya, iya maaf deh, yaudah yuk berangkat! Doain Amel ya Pa, Ma semoga Amel lolos. Assalamu’alaikum.”
Suasana begitu ramai sesampainya aki di SMA Harapan Bangsa. Lautan manusia berseragam putih biru membanjiri lapangan utama pagi ini. Untung saja pengumuman belum dimulai.
“Amel….!!!” Teriak seseorang di belakangku.
Aku menoleh dan mendapati sahabatku, Inggrid berlari-lari kecil menghampiriku.
Kepada seluruh calon peserta didik SMA Harapan Bangsa, pengumuman sudah kami tempel di papan pengumuman di sebelah barat lapangan utama. Terimakasih.
Aku dan Inggrid berlarian menuju lokasi pengumuman.
Aku mencoba menyusup sampai barisan paling depan. Kutelusuri barisan nama demi nama dengan teliti.
AMELIA ADISTY            LOLOS
Aku lolos! “Alhamdulillah” ucapku penuh syukur.
Inggrid memberitahuku kalau dia juga lolos. Kami sangat bahagia karena dapat bersekolah di sekolah yang sama lagi. Kami sampai berpelukan saking bahagianya.
Hei! Aku melupakan seseorang. Angga! Dia adalah kekasihku. Dimana dia? Sedari tadi aku belum melihatnya.
“Hei!” seseorang menepuk pundakku dan akupun menoleh.
“Selamat ya, Mel. Aku tidak lolos.” Kata Angga dengan wajah kecewa.
“Sabar, Ngga. Pasti akan ada jalan yang terbaik untukmu, aku selalu mendoakanmu.” Kataku memberi semangat kepada Angga.
“Iya, terima kasih ya,” kata Angga sambil tersenyum. Akupun ikut tersenyum lega.
****
Hari ini adalah hari pertamaku menjadi siswi berseragam putih abu-abu, setelah tiga hari berturut-turut mengikuti Masa Orientasi Siswa (MOS). Acaranya sangat seru, aku berkenalan dengan teman-teman baru dan juga dengan kakak-kakak senior yang baik hati.
Trrrtt … trrttt …
From: Angga
            Selamat pagi, Mel J Gimana hari pertama di SMA? Have a nice day ya J

 
To: Angga
            Selamat pagi juga, Ngga J Senang banget nih sama suasana baru. Have a nice day too J

 
 







****
8 bulan kemudian….
Kesibukan di sekolah dengan berbagai macam kegiatan benar-benar menyita waktuku. Bahkan aku jarang sekali main dengan Inggrid, apalagi Angga. Dia sekarang juga super sibuk karena dia salah satu anggota Majelis Permusyawaratan Kelas (MPK) di sekolahnya, tetapi Angga masih meluangkan waktunya untuk sekedar menanyakan kabarku melalui telepon maupun SMS.
Bruukk….
Suara gaduh itu membuyarkan lamunanku. Ternyata Kak Radit menjatuhkan buku-buku yang dibawanya.
“Ya ampun, Kak kok bisa jatuh sih?” tanyaku sambil ikut membereskan buku-bukunya.
“Ternyata ada meja di depanku dan aku nggak tahu, jadi nabrak deh hehe…” kata Kak Radit sambil meletakkan buku-bukunya di meja.
Kak Radit adalah ketua ekstrakurikuler yang aku ikuti yaitu majalah sekolah. Kak Radit sangat baik dan humoris, dia sudah ku anggap seperti kakakku sendiri. Kak Radit juga teman curhatku selain Ingrid.
“Kamu ngapain, Mel bengong di sini sendirian? Galauin pacar?”
“Hehe..tahu aja Kak Radit ini,” Jawabku malu.
“Ya tahu dong, isi curhatmu pasti kan galauin pacar.”
“Hehe..ya maaf Kak,” Jawabku sekali lagi dengan malu.
“Hmmm..udah sore nih, pulang yuk! Aku antar.”
“Nggak usah Kak, terima kasih. Aku masih nunggu Inggrid latihan dance.”
“Yasudah, aku duluan ya, bye!” kata Kak Radit sambil berlalu.
Kak Radit selalu baik padaku, dia selalu ingin mengantarku pulang jika hari sudah terlalu sore, tetapi aku tidak mau. Aku lebih memilih pulang bersama sahabatku, Inggrid.
****
Sudah beberapa hari ini Angga sulit sekali dihubungi, dia juga tidak mencoba menghubungiku. Tidak seperti biasanya dia begitu. Setiap aku pergi ke rumahnya pasti dia sedang tidak ada di rumah. Aku tidak boleh berburuk sangka kepadanya, mungkin saja memang dia benar-benar sibuk. Aku sangat rindu kepada Angga, semoga saja dia tidak berubah.
Satu minggu lagi kami merayakan hari jadi kami yang ke-4. Apa Angga akan membuat kejutan untukku? Akupun harus memberi kejutan kepada Angga. Aku akan membuat kue tart sendiri, karena biasanya kami membelinya. Aku akan meminta Inggrid untuk mengajari membuat kue.
****
Satu minggu sudah terlewati dan hari ini tepat hari jadi kami yang ke-4. Angga belum juga menghubungiku. Aku cemas. Apa dia lupa? Sebegitu sibukkah dia sampai dia tidak meneleponku atau sekedar memberi ucapan lewat SMS?
“Sabar, Mel, pasti dia akan menghubungimu,” kata Inggrid mencoba menenangkanku.
From: Angga
            Maaf aku sangat sibuk. Happy Anniversary!
 
Trrrtt…trrtt…


Hah? Angga hanya membalas seperti itu? Ada apa dengan Angga? Dimana Angga yang dulu? Angga yang sangat romantis dan perhatian kepadaku. Apa yang membuat Angga berubah? Pikiranku sangat tidak karuan. Tangisku semakin menjadi-jadi, memecah keheningan di taman belakang SMA Harapan Bangsa.
“Sudahlah, Mel, tak perlu kau tangisi! Kapan-kapan kita temui dia dan minta penjelasan mengapa dia seperti itu. Sekarang ayo kita pulang!” kata Inggrid dengan nada sangat kesal.
Aku menurut saja apa kata Inggrid. Selama perjalanan pulang aku hanya diam, sibuk dengan pikiranku sendiri. Inggrid pun tidak mencoba mengajakku bicara, dia hanya menatapku dengan belas kasihan.
Tiba-tiba angkutan yang kami tumpangi mogok. Terpaksa kami harus turun. Untung saja jalan menuju rumah sudah tidak jauh. Aku dan Inggrid memutuskan untuk jalan kaki saja.
“Mel..Mel..lihat deh! Itu Angga, bukan?” kata Inggrid tiba-tiba berhenti dan menunjuk ke arah seberang.
“Mana? Hah iya,Nggrid! Tapi siapa perempuan yang bersamanya itu? Aku harus temui dia!” kataku sudah tidak sabar lagi, tetapi Inggrid mencegahku. Dia melihat aku sangat marah sekali dan dia khawatir kalau nantinya aku tidak dapat menahan emosi saat menemui Angga.
Aku sudah tidak tahan lagi. Aku segera berlari menuju rumah, meninggalkan Inggrid sendiri. Air mataku serasa ingin tumpah, aku mencoba menahannya. Tidak mungkin aku menangis di jalanan.
Sesampainya di rumah aku menangis sepuasnya. Pikiranku benar-benar kacau. Aku cemburu. Siapa perempuan itu? Mengapa dia pergi dengan perempuan lain? Harusnya hari ini kami merayakan hari jadi kami. Sudah kucoba menghubungi Angga, dan besok sore dia mengajakku bertemu di taman kota.
****
Setengah jam sudah aku menunggu. Aku harus tetap sabar menunggunya datang dan mendengar penjelasan darinya.
Kulihat motor berwarna biru datang menghampiriku.
Angga turun dari motornya dan duduk di sampingku. Kami duduk dalam diam. Tidak biasanya suasana seperti ini terjadi. Kami seperti orang asing yang tidak saling mengenal. Konyol!
“Kemarin kenapa kamu tidak datang menemuiku untuk merayakan hari jadi kita?” tanyaku memulai percakapan.
 “Sudah kubilang aku sibuk,” jawab Angga ketus.
“Sibuk? Kemarin aku lihat kamu pergi bersama perempuan lain. Apa itu yang dinamakan sibuk? Siapa perempuan itu?” aku sudah tidak dapat menahan amarahku.
“Apa-apaan sih kamu, dia itu temanku! Kamu menuduhku selingkuh? Kalau bertemu hanya ingin menuduhku seperti itu lebih baik aku pulang saja,” Kata Angga dengan nada tinggi.
“Angga, tungguuu..!!!”
Percuma saja aku mencegahnya untuk tetap tinggal. Dia pergi begitu saja meninggalkanku sendiri. Apa aku salah berbicara seperti itu? Aku hanya ingin tahu siapa perempuan yang bersamanya waktu itu. Aku hanya bisa terdiam dan menangis.
“Hei!” seseorang menepuk pundakku, akupun kaget.
“Hei, Kak Radit, ngapain disini?” tanyaku sambil mengusap air mata.
“Maaf, Mel tadi aku tidak sengaja melihatmu bertengkar dengan pacarmu, yang sabar, Mel,” kata Kak Radit sambil merangkulku dan membiarkan kepalaku bersandar di pundaknya.
Aku bercerita banyak kepada Kak Radit, dia mencoba menenangkanku. Aku merasa sedikit agak tenang setelah berbagi keluh kesah kepada Kak Radit. Hari sudah mulai gelap, Kak Radit mengajakku pulang. Kak Radit mengatakan kalau aku tidak boleh menolak tawarannya untuk mengantarku pulang. Aku menurut saja.
****
Semenjak pertemuan sore itu di taman kota, hubunganku dan dia semakin memburuk. Setiap hari aku mengirim SMS dan meneleponnya, tetapi selalu tidak ada jawaban, seolah-olah dia mencoba menghindariku. Hanya air mata yang setia menemani hari-hariku.
Aku sudah tidak tahan jika terus-terusan seperti ini. Aku harus segera membuat keputusan. Sore ini sepulang sekolah aku harus menemui Angga dan membicarakan soal hubungan kami.
Aku menunggunya di tempat seperti biasa, di taman kota.
Berat rasanya harus mengatakan semua ini, tapi semoga inilah yang terbaik untukku dan untuknya.
“Maaf, Ngga aku sudah tidak tahan dengan keadaan kita yang seperti ini, kamu hanya diam. Aku tidak mengerti apa yang sudah terjadi pada dirimu. Aku ingin putus! Maafkan jika selama ini aku banyak salah. Mulai sekarang kita harus menjalankan kehidupan kita masing-masing.”
Aku menangis, berlari meninggalkan Angga sendiri. Aku sedih, aku sakit. Tetapi memang inilah yang terbaik untuk kami. Hubungan yang terjalin selama kurang lebih empat tahun harus berakhir di taman kota sore ini.
****
Satu bulan pasca berakhirnya hubunganku dengan Angga, aku sering mendapat kiriman surat yang entah siapa pengirimnya.
“Surat lagi, Mel? Ciyeee,” tanya Inggrid yang tiba-tiba muncul di depanku.
“Iya, nih. Kira-kira siapa ya pengirimnya?” tanyaku kepada Inggrid sambil membaca isi surat tersebut.
“Tauk..pengagum rahasia mungkin,” jawab Inggrid menggodaku.
Aku hanya tersenyum geli. Aku jadi penasaran, siapa ya yang setiap hari mengirimiku surat seperti ini.
Text Box: To: Amelia
 Kalau kamu penasaran siapa aku, besok Minggu pagi aku tunggu di taman pusat kota jam 10. Aku memakai kaos berwarna merah.  Aku berharap kamu datang!
Ternyata surat hari ini ada dua lembar. Segera kubuka suratnya dan kubaca isinya.



“Sudahlah, Mel, temui saja! Siapa tahu dia cowok ganteng, nggak ada ruginya, hahaha…” kata Inggrid sambil tertawa.
Benar juga kata Inggrid, aku sangat penasaran dengannya. Tidak ada salahnya aku menemuinya.
****
Aku sudah berada di taman pusat kota. Dimana penulis surat misterius itu? Atau jangan-jangan dia hanya membohongiku.
Aku memutuskan untuk pulang saja, tetapi langkahku terhenti ketika aku melihat seorang laki-laki memakai kaos berwarna merah berdiri membelakangiku di seberang sana. Aku menghampirinya.
“Hei, apakah kau yang sering mengirimiku surat setiap pagi?”
“Iya, benar,” jawabnya singkat.
Dia pun berbalik dan betapa terkejutnya aku ketika aku mengetahui bahwa orang yang sekarang berdiri di depanku adalah Kak Radit.
Ternyata Kak Radit lah pengirim surat misterius itu.
“Aku sudah mengagumimu sejak pertama kali aku melihatmu di hari pengumuman dulu itu. Aku juga sangat senang ketika aku mengetahui kalau kamu mengikuti ekstrakurikuler yang sama denganku. Tetapi aku tidak berani mendekatimu karena kamu sudah mempunyai pacar, tetapi sekarang kamu sedang sendiri. Aku tidak akan lama berbasa-basi. Maukah kamu menjadi pacarku?”
Aku terkejut. Aku tidak dapat berkata apa-apa. Aku tidak tahu mengapa aku sangat senang Kak Radit berbicara seperti itu. Kak Radit laki-laki yang baik mana mungkin aku menolaknya.
“Ya.” Hanya itu yang dapat aku ucapkan.

Kami pun tersenyum bahagia sembari memandang langit senja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar